Allah Berinkarnasi
Allah
Berinkarnasi
(By: Arif Takaeb)
A.
Pendahuluan
Semua
orang Kristen tentu yakin dan percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang
berinkarnasi menjadi manusia. Hal ini merupakan aspek yang sangat penting dalam
Kekristenan, dan juga merupakan salah satu inti pengajaran kekristenan.
Kenyataan bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia adalah
salah satu hal yang membuat kekristenan berbeda dengan agama lain. Namun pada
kenyataannya hal ini sering menjadi pertanyaan dan pertentangan dari zaman dahulu
hingga saat ini. Pertanyaan dan pertententangan tentang inkarnasi Allah ini
biasanya dilakukan oleh orang-orang yang belum mempercayai Yesus Kristus sebagai
Tuhan dan Juruselamat mereka. Melalui paper ini, akan dipaparkan beberapa
pandangan yang dapat menjawab pertanyaan dan keraguan tersebut.
B.
Isi
dan Refleksi
Inkkarnasi berasal dari bahasa Latin, Incarnatio yang terdiri dari dua kata, yaitu In (masuk ke dalam) dan Caro/Carnis (daging). Jadi, kata ini dapat diartikan sebagai masuknya Allah ke dalamdaging manusia dalam diri Yesus Kristus. Hal ini menunjukan
bahwa Allah
bukan hanya khayalan atau maya seperti eksistensi hantu. Sebab melalui Yesus
Kristus, Allah benar-benar menyatakan diri-Nya dalam wujud manusia dan Ia
tinggal bersama-sama dengan kita. Seperti yang dikatakan Hick (Adiprasetya, 2002 hal. 79) bahwa Allah telah dijumpai melalui Yesus Kristus, dalam hal ini Allah telah berinkarnasi menjadi manusia dan dalam kehadiran Yesus Kristus, kita dapat merasa bahwa kita berada dalam hadirat Allah. Hal ini berarti bahwa Allahyang berinkarnasi adalah pribadi kedua dari Allah
Tritunggal yang telah mengambil rupa sebagai seorang manusia yang dapat kita
dengar, lihat dan sentuh secara langsung. Yesus Kristus secara nyata dilahirkan
melalui perawan Maria dan hal inilah yang terus menerus diperdebatkan oleh
orang-orang yang belum percaya atau belum menerima Kristus sebagai Tuhan dan
Juru Selamat. Namun, berita tentang kelahiran Yesus Kristus telah dinubuatkan
sejak masa Perjanjian Lama (Yesaya 7:4). Selanjutnya di dalam Perjanjian Baru, Yohanes
mengatakan hal ini secara lebih teologis, yaitu bahwa Firman yang Ilahi dan
kekal telah menjadi daging, dan bahwa Allah telah “diam” di antara manusia.
Kristus berinkarnasi berarti Allah tidak memperhitungkan keberadaan-Nya yang sangat
berotoritas dan sempurna, dalam hal ini Allah mengosongkan diri-Nya dan
mengambil rupa sebagai seorang manusia biasa (pengesampingan atribut Ilahi).
Karena hanya melalui cara ini, apa yang telah dinubuatkan dalam perjanjian lama
digenapi.
Ketika
Allah berinkarnasi, Allah harus mengambil rupa menjadi seorang laki-laki,
tetapi hal ini tidak berarti bahwa Allah menganugerahkan hak yang istimewa
kepada kaum laki-laki. Seperti yang dikatakan oleh Elisabet Jonson (Urban, 2006 halaman 501)
bahwa hak-hak khusus yang historis dari pribadi Yesus termasuk jenis kelamin,
sifat-sifat, ras, warisan linguistis, kelas sosial tidak menunjukan bahwa Allah
berinkarnasi secara lebih tepat kedalam realitas-realitas ini (laki-laki) dari
pada ke dalam realitas-realitas yang lain (perempuan). Lebih jelas lagi ia
mengatakan bahwa bagian-bagian lain dari tradisi itu tampaknya mensakralkan hal
yang berkenaan dengan pria dengan penggunaan yang menonjol dan terus-menerus
akan istilah atau ungkapan “Anak Allah” pribadi kedua dari Tritunggal. Ketika Yesus Kristus mengosongkan diri-Nya dan turun ke
dunia, Ia melewati proses biologis yang sama seperti manusia pada umumnya di
bumi, yaitu dikandung selama sembilan bulan, kemudian dilahirkan. Namun proses
kehamilan melalui perawan Maria terjadi karena pekerjaan Allah. Bukan karena
hubungan suami-istri seperti manusia pada umumnya. Empat ratus tahun lamanya
Allah berdiam diri dalam murka-Nya, setelah itu Allah memutuskan untuk
berinkarnasi dalam wujud 100% Allah dan 100% manusia, nama-Nya Imanuel (Yesaya
7:14). Allah memang membatasi diri-Nya dan menjadi manusia, karena kasih-Nya
yang tidak terbatas kepada manusia, sehingga Allah dalam kedalaman kasih-Nya, Ia
berkehendak untuk menyelamatkan manusia ciptaan-Nya dari kebinasaan (Sunarko,
2008). Hal yang sama juga dikatakan oleh Larry Rasmussen (2010, hal. 513) bahwa Dia
berinkarnasi di bumi dan menawarkan satu jalan keterikatan kepada bumi yang
pasti sebagai milik ciptaan. Tidak ada cara lain yang dapat ditempuh selain
menjadi manusia yang sama seperti kita dan memberikan nyawa-Nya sebagai
penebusan atas dosa kita. Jalannya sudah mutlak, Ia harus menjadi manusia
seutuhnya (baik dalam bentuk fisik ataupun secara sifat), tetapi secara
bersamaan juga, Ia harus tidak berdosa agar Ia bisa melunaskan dosa kita dan
memadamkan murka Allah. Seperti tertulis dalam 1 Petrus 3:18a, “Sebab juga
Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk
orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah”. Tidaklah
mungkin Ia dapat melunaskan dosa kita manusia, jika Ia sendiri adalah manusia
yang berdosa juga.
Pada saat Ia berinkarnasi menjadi manusia, manusia dapat
bertemu langsung dengan Dia, dan dapat mengenal Dia lebih dalam. Manusia dapat
mengenal Allah karena Ia sendiri yang menyatakan diri-Nya kepada kita. Namun,
misteri inkarnasi tidak dapat dipahami atau dijelaskan oleh siapapun, dan kita
hanya dapat merumuskannya (Packer,
2008). Hal ini menunjukan bahwa kita sebagai manusia yang terbatas hanya dapat
mengetahui apa yang Allah nyatakan tentang diri-Nya. Namun, hal ini bukan
merupakan foktor penghambat bagi kita yang hidup di zaman sekarang untuk dapat
mengenal Allah. Kita harus mengenal Allah dan terus menjalin relasi yang lebih
intim dengan Dia, karena Dialah sumber pengharapan kita, dan tidak ada satupun
kebenaran diluar Dia.
C.
Kesimpulan/Penutup
Dari pemaparan dan
pembuktian atas kebenaran bahwa Yesus memiliki keilahian dan eksistensi. Semua
itu terbukti dari pernyataan-pernyataan dalam Alkitab bahwa “Yesus yang
menerima penyembahan dari manusia, Yesus tidak berdosa, Yesus hidup penuh
dalam mujizat, dan Yesus bangkit dari kematian”. Ini semua membuktikan bahwa
Yesus memanglah Allah yang benar-benar menjelma dengan cara berenkarnasi
menjadi manusia. Karena tidalkah mungkin seorang manusia bisa dapat melakukan
hal ini.
Sehebat apapun
teori dari para tokoh yang menentang keilahian dan eksistensi Kristus, tetapi
mereka selalu mempunyai kelemahan dan Alkitab juga selalu mempunyai jawaban
dari semua pertanyaan tersebut. Bukti nyata dari keilahian dan eksistensi
tersebut dapat dilihat dari peristiwa kebangkitan-Nya setelah disiksa dan mati
di kayu salib untuk menebus dosa kita. Yesus adalah Allah yang hidup yang berinkarnasi
dalam tubuh manusia yang telah menjamin keselamatan para murid juga semua orang
percaya.
Dalam mengimani
Yesus Kristus sebagai Allah yang hidup dan berinkarnasi seringkali rasio yang
kita miliki berbalik menjadi lawan kita. Hal itu disebabkan karena manusia
telah berdosa dan menjadi terbatas yang tidak memungkinkan manusia dapat
mengerti Allah sepenuhnya. Namun, Alkitab yang merupakan wahyu khusus dari
Allah tetap mempunyai informasi yang cukup untuk meneguhkan iman kita.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKATA KUNCINYA, SETELAH YESUS MATI, AJARAN YESUS DIRUSAK PAULUS. YG ME NUHAN KAN YESUS --->> PAULUS. BACA, KTIKA LAHIR, YESUS BERKATA " AKU UTUSAN ALLAH. DUNIA APA G BACA. YESUS ISLAM, SEMUA NABI. 1 ALLAH YANG MAHA ESA.
BalasHapusKATA KUNCINYA, SETELAH YESUS MATI, AJARAN YESUS DIRUSAK PAULUS. YG ME NUHAN KAN YESUS --->> PAULUS. BACA, KTIKA LAHIR, YESUS BERKATA " AKU UTUSAN ALLAH. DUNIA APA G BACA. YESUS ISLAM, SEMUA NABI. 1 ALLAH YANG MAHA ESA.
BalasHapusBambang Priyono@ bayak pandangan yang meragukan ke-Allahan Yesus. namu, perlu diketahui bahwa ajaran Yesus tidak pernah dirusak oleh Paulus. paulus mengatkan bahwa Yesus adalah Tuhan merupakan subuah fakta. Alkitab secara implisit mengungkapkan kebenaran tersebut : 1) Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Allah, dengan berkata, “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14). “Aku adalah Aku” adalah arti dari kata Yahweh. Istilah “Alfa dan Omega” (sebab awal dan tujuan akhir segala sesuatu), yang mengacu kepada Allah sendiri, juga dikatakan oleh Kristus tentang siapa Diri-Nya (Why 1:8, 21:6; 22:13). Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa sebelum Abraham ada, Ia sudah ada terlebih dahulu (Yoh 8:58), dan justru karena jawaban ini, yang secara jelas menyatakan bahwa Ia adalah Allah, maka Yesus dijatuhi hukuman mati atas tuduhan menghujat Allah. 2)Pra-eksistensi sebagai Allah: Yohanes 1:1-14 - “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”.... “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita”. Yohanes 8:58 - . “Kata Yesus kepada mereka: ’’Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada’’’. Yohanes 16:28 – “Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.’’Wahyu 22:13 - “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.”
HapusKesimpulan: Yesus telah ada sebelum kelahiran-Nya karena Ia berasal dari keeksistensisan Allah dan Ia adalah Allah.
Thank you :)