Kekecewaan terhadap Allah


Hidup merupakan suatu proses yang harus dijalani. Dalam menjalaninya tentu banyak hal yang kita hadapi, baik itu hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Sebagai manusia, hidup terasa sangat menyenangkan apabila kebutuhan kita terpenuhi. Namun, apabila hal yang kita harapkan tidak terpenuhi, maka kita akan mengatakan bahwa hidup tidak menyenangkan dan perasaan kecewa terhadap Sang pemilik kehidupan akan mulai muncul disertai dengan sejumlah pertanyaan. Contohnya, kita belajar dengan giat untuk mendapatkan nilai yang baik saat ujian, dan hasil ujian tersebut tidak memuaskan maka kita akan menjadi kecewa, dan motifasi dari diri kita untuk belajar sudah mulai berkurang. Kekecewaan merupakan suatu perasaan yang timbul dalam hati kita, apabila kenyataan yang kita hadapi tidak sesuai dengan harapan kita. Berbicara tentang kekecewaan, maka secara otomatis kita akan berbicara tentang apa yang kita percayai di dasar hati kita, yaitu tentang Tuhan dan tentang kehidupan kita sebagai umat manusia.
Sebagai orang beriman, tentu kita menyadari bahwa pernyataan kekecewaan terhadap Allah secara logika tidak masuk akal, sebab kita percaya bahwa Tuhan adalah pribadi yang sempurna dan tidak pernah gagal. Namun, tidak dapat dipungkiri karena perasaan kecewa sering kali muncul dalam hati kita, terutama saat kita gagal mencapai apa yang kita harapkan. Philip Yancey dalam bukunya yang berjudul "Kekecewaan terhadap Allah" menceritrakan begitu banyak oreang yang merasa kecewa terhadap Allah. Secara umum, mereka kecewa karena menurut mereka Allah tidak adil terhadap mereka, Allah mengambil orang-orang yang sangat mereka sayangi, Allah tidak memberikan pekerjaan saat mereka membutuhkan dan Allah tidak menunjukan kuasanya kepada mereka saat mereka mengharapkan. Mereka berpatokan penuh pada Matius 7:7, tetapi mereka mengabaikan Matius 7:12. Sehingga pada saat mereka berdoa, mereka merasa bahwa mereka telah menjalankan bagian mereka, tetapi Tuhan Tuhan tidak menjalankan bagian-Nya untuk mendengar dan menjawab permohonan mereka. Mereka selalu menjadikan Tuhan sebagai kausa prima dari tidak terkabulkannya doa-doa mereka. Namun, perlu diketahui bahwa Tuhan jauh lebih mengetahui segala sesuatu yang kita butuhkan dan Ia akan menjawab doa kita sesuai dengan waktu-Nya.Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita dan Ia akan memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan (Matius 6:32b). 
Kekecewaan terhadap Allah tidak hanya dirasakan oleh kita yang hidup di zaman sekarang, karena Alkitab juga mencatat sejumlah orang yang pernah kecewa kepada Allah. Misalnya, Yunus kecewa karena Tuhan mengampuni orang-orang jahat yang bertobat (Yunus 4:1-2). Habakuk kecewa karena Tuhan tidak menjawab dan tidak menolong meskipun ia sudah berdoa sekian lama (Habakuk 1: 2-3). Naomi kecewa karena Tuhan mengizinkan hal-hal buruk menimpa hidupnya (Rut 1:20-21). Namun menurut saya, kita sebagai manusia sering kali hanya melihat Allah dari perspektif kita sebagai manusai yang terbatas, misalnya ketikan kita susah dan ada orang lain sukses di sekitar kita, maka kita mulai iri hati. Pada saat kritis seperti itu, kita mulai berdoa dan mengharapkan mukjizat dari Tuhan serta berharap agar kita juga sukses seperti orang tersebu. Pada saat doa yang kita naikan tidak dijawab, maka mulailah muncul kekecewaan dalam hati kita terhadap Tuhan. Menurut saya, apa yang menjadi kebutuhan kita telah dipersiapkan oleh Allah secara matang bahkan sebelum kita dilahirkan sehingga apa yang belum kita dapatkan bukan berarti Allah tidak adil atau Allah membisu terhadap kita, tetapi karena belum waktunya.
Sebagai manusia, terkadang kita engatakan bahwa Allah sepertinya kurang adil terhadapp kita. Kita memandang bahwa keadilan terjadi apabila semua yang kita inginkan terjawab atau kita juga mendapatkan apa yang didapatkan oleh orang lain. Namun menurut saya, kesan kita secara umum tentang Allah sangat berbeda dengan apa yang digambarkan oleh Alkitab. Kita sering kali memiliki syarat agar bisa percaya dengan sungguh-sungguh kepada Allah, misalnya mukjizat nyata dari Allah terjadi dalam hidup kita. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah sabda yang jelas dari Allah dapat meningkatkan ketaatan dan mukjizat yang kita dambakan dapat membantu pertumbuhan iman kita? Belum tentu. Sebagai contoh, mari kita melihat kembali apa yang telah terjadi pada peristiwa keluarnya bangsa Israel menuju ke tanah Kanaan. Allah sangat menyertai mereka, dan semua yang telah dijanjikan Allah benar-benar terjadi. Mukjizat benar-benar nyata pada saat itu dan Allah hanya menginginkan ketaatan dari umat manusia. Namun, mukjizat yang nyata tersebut ternyata tidak dapat membuat menusia memiliki iman yang sejati terhadap Allah, manusia justru melakukan hal yang sangat jahat di mata Tuhan, melanggar apa yang menjadi perintah Tuhan dan manusia gagal dalam ujian ketaatan yang diberikan oleh Tuhan. Oleh karena itu, ketiga pertanyaan utama yang dibahas oleh Philip, yaitu Apakah Allah tersembunyi? Apakah Allah membisu? Apakah Allah tidak adil? Hal ini harusnya menjadi sebuah teka-teki yang harus kita pecahkan seperti yang kita hadapi dalam bidang matematika, ilmu filsafat dan lainnya, tetapi hal ini lebih merupakan persoalan hubungan di antara manusia dengan Allah yang rindu untuk mengasihi dan dikasihi. Mereka yang merasa kecewa terhadap Allah hanya melihat dari sudut pandang manusia, sehingga pada saat kita mengajukan pertanyaan mengapa Allah tidak adil? Membisu? Bersembunyi? – kita sebenarnya bertanya, mengapa Allah tidak adil terhadapku? Membisu terhadapku? dan bersembunyi daripadaku?
Sebagai manusia, kita seharusnya tidak perlu meragukan kehadiran dan campur tangan Allah dalam hidup kita, karena kehadiran Yesus Kristus sudah membuktikan bahwa Allah itu nyata, Allah yang kita fonis tersembunyi benar-benar mengambil bagian di atas muka bumi, Ia memiliki wajah, nama, alamat dan juga sebagai pribadi yang dapat didengar, dilihat dan disentuh. Kita hanya perlu melakukan kehendak-Nya dan menjadikan-Nya sebagai penunjuk arah dalam hidup kita. Mengandalkan Allah dalam hidup kita bukan berarti hidup kita akan menjadi sempurna, sebab peristiwa yang menyakitkan akan selalu ada. Dunia memang sakit! Namun, Allah yang penuh kasih akan selalu membantu kita untuk melewati setiap cobaan hidup yang kita hadapi sampai tuntas. Tugas kita sebagai manusia hanyalah setia, taat dan mengimani Allah dengan benar, sebab hanya dengan iman seseorang dapat diselamatkan (lukasa 8:48). Sebagai manusia, kita hanya bisa melihat apa yang ada di depan mata, dan sering kali apa yang kita lihat membuat kita kecewa. Namun, apa yang kita percayai tentang pribadi dan karya Tuhan akan memampukan kita melihat melampaui apa yang ada di depan mata. Memampukan kita bersyukur dalam hari-hari yang paling sulit sekalipun dan memampukan kita menghadapi hal-hal di luar ekspektasi kita dengan pikiran yang jernih. Ketika kita sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, maka cobaan hidup yang kita hadapi tidak akan membuat kita menjadi kecewa kepada Tuhan dan lari menjauh dari-Nya, tetapi justru membuat kita semakin mendekat dan bergantung kepada Allah. Allah yang pengasih mempunyai rencana yang jauh lebih indah dari apa yang kita inginkan, sehingga kita tidak perlu menuntut hal-hal yang tidak penting dari Tuhan, karena jalur kehidupan kita sudah ditetapkan oleh Allah, bahkan sejak kita belum dilahirkan di dunia. Kita harus menjalani kehidupan yang Tuhan percayakan kepada kita dengan penuh sukacita dan selalu mengandalkan Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita. Dengan demikian, perjalanan hidup yang panjang dan harapan yang besar tidak menimbulkan suatu kekecewaan, melainkan suatu sukacita besar di dalam Tuhan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perkembangan Akal Pikir Manusia: Dikaji dari Potret Pendidikan di Indonesia

Natur Manusia

Pengertian Paragraf Deskripsi, Narasi, Eksposisi, Argumentasi dan Persuasi beserta Conto-contohnya