Natur Manusia
Natur Manusia
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia.
Bahkan hal mendasar tentang manusia yang diajarkan oleh Alkitab adalah bahwa
manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kej. 1:26). Segambar dan serupa dengan Allah dalam pengertian yang paling sederhana berarti manusia dibentuk menyerupai Allah. Segambar dan serupa dengan Allah mengimplikasikan bahwa
manusia mewarisi sifat-sifat Allah yang agung dan mulia, termasuk hikmat dan
akal budi untuk tujuan memuliakan Allah. Namun, ada beberapa hal yang sering ditanyakan mengenai esensi manusia sebagai
ciptaan yang segambar dan serupa dengan Allah. Pertama, terdiri dari beberapa
bagiankah manusia itu? Kita semua sepakat bahwa manusia memunyai tubuh jasmani.
Kesepakatan yang lain adalah bahwa selain tubuh fisik, manusia juga memunyai
bagian yang immateri yang memiliki kekekalan, yaitu tubuh roahani. Namun,
umumnya kesepakatan berakhir sampai di situ saja karena ada perbedaan pendapat
yang sangat mencolok, khususnya tentang bagian immateri dari manusia. Ada dua
pandangan yang mendominasi pemikiran teologis Kristen yaitu pandangan dikotomi
dan trikotomi mengenai natur yang dimiliki oleh manusia. Penganut dikotomi menyatakan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan
jiwa/roh. Pendukung teori ini beranggapan bahwa istilah jiwa dan roh dipakai
secara bergantian di dalam Alkitab (Mat 6:25; Luk 1:46; I). Sedangkan pendukung
trikotomi berpandangan bahwa manusia terdiri dari tiga unsur, yaitu tubuh,
jiwa, dan roh. Mereka berpatokan pada Ibr. 4:12 dan I Tes 5:23. Akan tetapi
apabila penganut pandangan trikonomi beranggapan bahwa jiwa/roh memiliki
perbedaan, maka pertanyaannya adalah apa perbedaannya? Berdasarkan sesi-sesi
dalam pembelajaran ST 3 yang telah saya ikuti, saya dapat menyimpulkan bahwa kata roh merujuk pada aspek non-materi dari manusi termasuk jiwa, tetapi manusia bukan roh. Setiap kali kata roh dipergunakan, kata tersebut dapat merujuka pada pribadi orang itu secara keseluruhan, baik hidup maupun setelah kematian. Sedangkan kata jiwa merujuk bukan saja pada bagian non-materi tetapi juga bagian materi dari diri seseorang. Arti kata jiwa yang paling mendasar adalah hidup. Namun di dalam Alkitab, kata jiwa juga memiliki pengertian lain, yaitu keinginan manusia untuk berbuat dosa (Lukas 12:26). pada dasarnya jiwa dan roh sama dalam hal penggunaannya dalam kehidupan rohani orang percaya. Perbedaannya hanya ada dalam hal acuannya. Jiwa adalah pandangan manusia secara horizontal kepada dunia, yaitu menurujuk kepada kehidupab manusia di dunia, baik secara materi maupun non-materi. Sedangkan kata roh adalah pandangan manusia secara vertikal kepada Allah. Namun, penting ubtuk dipahami bahwa keduanya sama-sama merujuk pada bagian non-materi manusia.
Pandangan trikotomi
menyebutkan bahwa roh lebih unggul dari jiwa dan hanya jiwa yang bisa
dicemarkan. Pandangan ini jelas keliru karena roh pun dapat mengalami
pencemaran (II Kor 7:1). Apalagi mereka juga mengasosiasikan tiga bagian
manusia adalah gambaran tentang Allah Tritunggal. Jika demikian maka pertanyaan
selanjutnya adalah mana yang mewakili tubuh, jiwa dan roh dari ketritunggalan Allah?
Jelas pandangan trikotomi sedikit bermasalah dalam hal penafsiran terhadap
Firman Tuhan. Dapat diasumsikan bahwa bila kita menganut trikotomi, maka
seringkali ada kecenderungan manusia menjadi anti-intelektual dan cenderung
meremehkan studi Alkitab. Padahal Alkitab mengatakan bahwa manusia mengasihi
Allah dengan seluruh eksistensinya termasuk akal (Mrk 12:30).
Berbicara mengenai
gambar dan rupa Allah yang ada pada diri manusia bukan merupakan hal baru yang
saya dengar. Namun, terkadang saya melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya
dilakukan, misalnya dalam hal menjaga hati dari segala keinginan duniawi. Saya
tahu bahwa saya berasal dari keluarga miskin, tetapi terkadang saya juga
terpengaruh dengan teman-teman yang berasal dari keluarga kaya dan membeli barang-barang
mewah yang sebenarnya tidak saya butuhkan.
Namun, setelah mengikuti pembelajaran tentang doktrin manusia dan
mengetahui makna dari gambar dan rupa Allah yang ada pada manusia, saya semakin
sadar bahwa hikmat dan akal budi yang saya miliki harus saya kelola dengan
bijaksana untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk memenuhi keinginan duniawi
saya sendiri. Saya pun telah berusaha untuk menjauhi hal-hal seperti ini,
tetapi saya menyadari bahwa semua yang telah saya lakukan masih kurang. Saya
menyadari sepenuhnya bahwa saya memiliki keterbatasan sebagai ciptaan, tetapi
keterbatasan tersebut bukan merupakan faktor penghambat bagi saya untuk terus
mengevaluasi dan mengembangkan diri saya. Saya akan selalu berusaha untuk
melawan dan menjauhi dosa-dosa yang selama ini saya anggap pantas untuk
dilakukan dengan tetap berpatokan pada kebenaan Firman Tuhan. Saya harus bisa
menemukan kunci perubahan dalam diri saya, agar saya dapat merubah perspektif
salah yang telah saya pegang selama ini.
Komentar
Posting Komentar